Postingan

Keluarga dan Pemuridan

Keluarga dan Pemuridan Matius 4:19   Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." Tuhan Yesus memanggil para murid dan mengajak mereka untuk mengikuti-Nya. Tuhan mau mereka hidup bersama dengan-Nya, sehingga bisa melihat, mendengar dan mengalami langsung kehidupan Tuhan Yesus. Tuhan menginginkan agar mereka bisa mengerti isi hati-Nya, visi-Nya, rencana dan kehendak-Nya. Tuhan tidak ingin mereka mengikut-Nya tapi dengan cara, keinginan dan rencana mereka sendiri. Tuhan tahu bahwa jika mereka menjalani kehidupan mereka dengan cara, keinginan dan rencana mereka sendiri, maka hasilnya adalah kesia-siaan. Prinsip “hidup bersama” dalam pemuridan paling efektif dilakukan di dalam keluarga. Di dalam keluarga, setiap anggota keluarga “dipaksa” untuk hidup bersama. Mau tidak mau, hidup bersama. Karena itu, seorang anak bisa belajar dari orangtuanya tentang firman Tuhan melalui kehidupan bersama dengan orang tuanya.

Khotbah: Berbahagialah Orang Yang Miskin Di Hadapan Allah

Khotbah: Berbahagialah Orang Yang Miskin Di Hadapan Allah Matius 5:3 Pengajaran yang Yesus sampaikan dalam Matius 5-7 disebut juga dengan Khotbah di Bukit. Hal ini merupakan pengajaran yang Yesus sampaikan kepada orang-orang yang mengikut-Nya (Matius 4:18-25). Tuhan menginginkan agar setiap orang yang mengikut-Nya mengalami pembaharuan di dalam seluruh aspek, misalnya konsep nilai, pemahaman teologi, dsb. Dengan demikian, setiap pengikut-Nya menjadi orang yang serupa dengan-Nya. Matius 5:3, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” merupakan pengajaran yang mengubah paradigma para murid tentang kebahagiaan. KEBAHAGIAAN DAN KEMISKINAN? Tuhan Yesus mengaitkan “kebahagiaan” dengan “miskin.” Ini adalah hal  yang sangat sulit untuk bisa dipahami karena manusia pada umumnya mengaitkan kebahagiaan dengan kekayaan. Namun, benarkah demikian? Apakah kekayaan bisa menjamin kebahagiaan? Atau sebaliknya, apakah kemiskinan bisa menjamin k

Renungan: Kristus Diadili = Kebenaran Diadili

Renungan: Kristus Diadili = Kebenaran Diadili Hari ini, saya merenungkan tentang kisah Kristus yang diadili. Saya menemukan sebuah konspirasi jahat yang dilakukan oleh para pemimpin agama Yahudi pada waktu itu. Mereka marah kepada Yesus karena Yesus menyingkapkan segala kebobrokan yang selama ini mereka lakukan. Jubah agama mereka kenakan dengan begitu indahnya, tapi hati dan perilaku dibaliknya tidak seindah jubah yang mereka kenakan. Dalam Matius 23, Tuhan Yesua secara jelas dan tegas menegur kemunafikan mereka. Juga, Yesus menyucikan Bait Allah dari oknum-oknum yang berkedok agama, namun sesungguhnya memeras dan memperdaya banyak orang. Sesungguhnya hal ini aneh: "Bait Allah" yang adalah "Rumah Allah" kok disucikan? Ya, ada orang-orang yang telah mengotori rumah Allah dengan hati, tangan dan perkataan yang busuk dan jahat. Yesus berkata "I am the TRUTH." (Aku adalah Kebenaran) Tapi, ironis sekali: Kebenaran diadili oleh ketidakbenaran. Yan

Renungan: Mengikut Yesus dan Harga Yang Harus Dibayar

Renungan: Mengikut Yesus dan Harga Yang Harus Dibayar Matius 16:24-25 24 Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. 25 Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Tantangan yang Tuhan Yesus berikan bagi orang yang ingin mengikut Yesus adalah "rela mengurbankan nyawa demi Kristus." Jika dilihat dari kaca mata kita, ini adalah tindakan yang HEROIK. Hebat. Menakjubkan. Mungkin banyak orang yang rela untuk melakukannya. Akan tetapi, tidak semua orang Kristen menghadapi tantangan tersebut. Ada yang hidup dalam keamanan, ketenangan dan kenyamanan. Satu perenungan yang perlu kita lakukan: kita tidak ditantang untuk mengurbankan nyawa kita, tapi kita ditantang untuk mengurbankan ambisi pribadi, nafsu pribadi, rancangan pribadi, dll. Apakah kita rela untuk melepask

Ringkasan Khotbah - Yesus Lebih Tinggi dari Segalanya (Ibrani 1:1-4)

YESUS : LEBIH TINGGI DARI SEGALANYA Ibrani 1:1-4 Penulis surat Ibrani ini menuliskan suratnya kepada orang-orang Kristen yang berlatar belakang Yahudi. Mereka mengalami aniaya dan penindasan. Juga, mereka mengalami kegoyahan iman, sehingga ada yang memikirkan untuk kembali kepada Yudaisme. Setidaknya, ada dua tujuan penulis menuliskan surat ini, yakni (a) Untuk menghibur dan menguatkan jemaat yang saat itu sedang mengalami penganiayaan ; (b) U ntuk mengajar jemaat agar bisa mengenal Yesus Kristus lebih lagi. Dengan demikian, ketika mereka bisa mengenal Yesus, maka mereka bisa dihibur dan dikuatkan. PENGENALAN AKAN YESUS Seluruh isi surat ini berfokus pada Yesus , dan menyatakan bahwa Yesus lebih tinggi dari siapa pun. 1.       Yesus adalah Anak yang berhak menerima untuk segala yang ada. Hal ini menyatakan bahwa Tuhan Yesus memiliki otoritas yang setara dengan Allah Bapa. Beberapa kali Tuhan Yesus menyatakannya: “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku ” ( M

Khotbah - Zakheus - Hidup yang diubahkan Kristus

HIDUP YANG DIUBAHKAN KRISTUS Lukas 19:1-10 Perjumpaan Zakheus dengan Tuhan Yesus merupakan perjumpaan yang membawa perubahan besar dalam kehidupannya. Ia tidak menduga hal itu akan terjadi. Awalnya, dia hanya ingin melihat seperti apakah Yesus itu. Namun, di luar dugaannya, ternyata Tuhan Yesus datang ke kota Yerikho khusus untuk menemuinya. Tuhan Yesus berkata, “ Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu .” Kisah serupa terjadi juga pada perempuan Samaria. Seperti biasa, ia datang ke sumur dan mengambil air pada siang hari. Ia tidak menduga bahwa ia berjumpa dengan Yesus di tepi sumur itu, dan perjumpaan itu mengubahkan hidupnya. Ada satu hal yang menarik untuk diperhatikan dalam kisah ini, yakni kata “harus” (lih. Yohanes 4:4). Tuhan Yesus harus menumpang di rumah Zakheus dan Tuhan Yesus harus melintasi daerah Samaria. Ini menekankan tentang misi kedatagan-Nya ke dalam dunia. Hati-Nya yang penuh dengan belas kasihan mendorong-Nya untuk me

Misi dan Pemuridan

MISI DAN PEMURIDAN Matius 4:19 dan Matius 28:19-20 Kedua ayat di atas merupakan kata-kata yang diucapkan oleh Tuhan Yesus kepada orang yang sama tapi dalam konteks yang berbeda. Matius 4 diucapkan oleh Tuhan Yesus ketika Ia memanggil para murid untuk dimuridkan oleh-Nya; sedangkan Matius 28 merupakan pengutusan para murid untuk memuridkan segala bangsa. Dari ayat-ayat ini, kita bisa melihat kesinambungan rencana Allah, yakni dimuridkan untuk memuridkan orang lain. Ada 3 hal penting yang dapat kita pelajari dari ayat-ayat di atas, yakni (1) memenangkan orang-orang yang belum percaya; (2) mengajar dan mendidik mereka untuk semakin mengenal Tuhan; (3) mengutus mereka kembali untuk memenangkan orang-orang yang belum percaya. Inilah yang Tuhan Yesus lakukan: memanggil para murid, lalu mengajar dan mendidik mereka selama 3,5 tahun, dan pada akhirnya mengutus mereka untuk melanjutkan tugas pemuridan itu kembali. Dengan kata lain, proses pemuridan mencakup ketiga hal ini: memenangkan (win)